Jawa Tengah Dan Bahasanya

pic: BeritaSatu.com

mediahusbandry.com(19/02/2021)-Pernah ngga sih kalian ngerasain pas dateng ke salah satu daerah di jawa tengah Yogyakarta  pas mereka ngobrol bahasa pake bahas jawa beda sama yang ada di daerah asal mu atau yang pernah kamu dengar sebelumnya. Dari mulai logat, pengejaan, dan kosa katanya

Dilihat dari segi geografis, dialek bahasa Jawa dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu dialek Bahasa Jawa bagian barat, dialek Bahasa Jawa bagian tengah, dan dialek Bahasa Jawa bagian timur. Di mana berdasarkan pengelompokkan ini, dialek yang digunakan oleh masyarakat penutur tidak harus menggunakan dialek asli daerahnya masing-masing, hal ini disebabkan karena adanya akulturasi budaya.

Terkhusus di provinsi jawa tengah dan DIY Yogyakarta sendiri secara garis besar terdapat kurang lebih 6 dialek yang saya rangkum

1. Dialek Tegal-Banyumas

Dialek Tegal-Banyumas atau sering disebut Basa Ngapak adalah kelompok bahasa Bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah (Pemalang, Tegal, Brebes, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Purbalingga, dan Banjarnegara). Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek Bahasa Jawa lainnya. Hal ini disebabkan Bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan Bahasa Jawa Kuno (Kawi). Sedangkan Dialek Tegal juga merupakan salah satu kekayaan Bahasa Jawa, selain Banyumas. Meskipun memiliki kosa kata yang sama dengan Dialek Banyumas, pengguna Dialek Tegal tidak serta-merta mau disebut ngapak karena beberapa alasan antara lain perbedaan intonasi, pengucapan, dan makna kata.

Implikasi selanjutnya adalah pada perkembangan Bahasa Jawa yang melahirkan tingkatan-tingkatan bahasa berdasarkan status sosial. Tetapi pengaruh budaya feodal ini tidak terlalu signifikan menerpa masyarakat di wilayah Banyumasan. Itulah sebabnya pada tahap perkembangan di era Bahasa Jawa modern ini, terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara bahasa Banyumasan dengan Bahasa Jawa standar sehingga di masyarakat Banyumasan timbul istilah bandhekan untuk merepresentasikan gaya Bahasa Jawa standar, atau biasa disebut bahasa wetanan (timur).

Dibandingkan dengan Bahasa Jawa Dialek Yogyakarta dan Surakarta, Dialek Tegal-Banyumas banyak sekali bedanya. Perbedaan yang utama yakni akhiran ‘a’ tetap diucapkan ‘a’ bukan ‘ό’. Jadi jika di Surakarta orang makan ‘segό’ (nasi), di wilayah Banyumas orang makan ‘sega’. Selain itu, kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh, misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena, sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf ‘k’ yang jelas, itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan Basa Ngapak atau Ngapak-ngapak. Basa Ngapak ini juga dikenal memiliki beberapa subdialek.

Banyumas

2. Dialek Pekalongan

Dialek Pekalongan adalah salah satu dari dialek-dialek Bahasa Jawa yang dituturkan di Kabupaten Batang, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Dialek Pekalongan termasuk dialek Bahasa Jawa yang “sederhana” namun “komunikatif”. Namun oleh orang Yogyakarta atau Surakarta, dialek itu termasuk kasar dan sulit dimengerti, sementara oleh orang Tegal dianggap termasuk dialek yang sederajat namun juga sulit dimengerti. Dialek Pekalongan banyak menggunakan kosakata yang sama dengan Dialek Tegal. namun pengucapannya tak begitu “kental” melainkan lebih “datar” dalam pengucapannya, contohnya menggunakan pengucapan : ri, ra, po’o, ha’ah pok, lha, ye. istilah yang khas, seperti : Kokuwe artinya “sepertimu”, Tak nDangka’i artinya “aku kira”, Jebhul no’o artinya “ternyata”, Lha mbuh artinya “tidak tau”. Jika ingin mendengarkan dialek pekalongan teman-teman dapat mengunjungi ig @someabout.remu kurang lebih seperti itu.

3. Dialek Kedu

Dialek Kedu dituturkan di daerah Kedu, tersebar di timur Kebumen: Prembun, Purworejo, Magelang dan khususnya Temanggung. Dialek ini terkenal dengan cara bicara yang sangat khas, hal ini di karenakan dialek tersebut merupakan pertemuan antara dialek “bandek” (Yogya-Solo) dan dialek “ngapak” (Banyumas). Contoh: Kata-kata yang masih menggunakan dialek ”ngapak” dalam tuturannya agak ”bandek”adalah seperti; “Nyong”: aku, tetapi orang Magelang memakai “aku”; “njagong” (duduk); “gandhul” (pepaya); ”mberuh” (tidak tahu); “krongsi” (kursi). Adanya pengantar: eeee, oooo, lha kok, ehalah, ha- inggih, sering digunakan dalam tuturan basa-basi masyarakat Temanggung jika sedang mengobrol.

Purworejo

4. Dialek Semarangan

Dialek Semarangan dituturkan di daerah Semarang. Letak daerah Semarang yang heterogan dari pesisir (Pekalongan/ Weleri, Kudus/ Demak/ Purwodadi) dan dari daerah bagian selatan atau pegunungan membuat Dialek Semarangan ini memiliki kata ngoko, ngoko andhap dan madya.

Para pemakai Dialek Semarangan juga senang menyingkat frase, misalnya Lampu abang ijo (lampu lalu lintas) menjadi “Bang-Jo”; seratus (100) menjadi “nyatus”. Namun tak semua frasa bisa disingkat, sebab tergantung kepada kesepakatan dan minat para penduduk Semarang mengenai frasa mana yang disingkat. Tetapi ada juga kalimat-kalimat yang disingkat, contohnya “Arep numpak Honda” artinya (akan naik sepeda motor). Zaman dulu sepeda motor biasa menggunakan sepeda motor merk “Honda”.

Adanya para warga/budaya yang heterogen dari Jawa, Tiongkok, Arab, Pakistan/India juga memiliki sifat terbuka dan ramah di Semarang tadi, juga akan menambah kosakata dan dialektik Semarang di kemudian hari. Adanya bahasa Jawa yang dipergunakan tetap mengganggu bahasa Jawa yang baku, sama dengan di daerah Solo. Artinya, jika orang Kudus, Pekalongan, Boyolali pergi ke kota Semarang akan gampang dan komunikatif berkomunikasi dengan penduduknya. (www.wikipedia.com)

Dialek Semarangan memiliki kata-kata yang khas yang sering diucapkan masyarakat setempat dan menjadi ciri tersendiri yang membedakan dengan dialek Jawa lainnya.Masyarakat Semarang sering mengucapkan kata-kata seperti “Piye, jal?” (Bagaimana, coba?) dan “Yo, mesti!” (Iya, pasti!). Orang Semarang juga lebih banyak menggunakan partikel “ik” untuk mengungkapkan kekaguman atau kekecewaan yang sebenarnya tidak dimiliki oleh bahasa Jawa. Misalnya untuk menyatakan kekaguman “Apik,ik!” (Alangkah indahnya!). Sedangkan untuk menyatakan kekecewaan, “Wonge lungo, ik” (Sayang, orangnya pergi!) Partikel “ik” kemungkinan berasal dari kata “iku” yang berarti “itu’ dalam bahasa Jawa, sehingga untuk mengungkapkan kesungguhan orang Semarang mengucapkan “He’e, ik!” atau “Yo, ik” (www.wikipedia.com)

5. Dialek Pantai Utara(pantura)  Timur

Dialek Pantai Utara Timur Jawa Tengah adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang sering disebut ”Dialek Muria” karena dituturkan di wilayah sekitar kaki gunung Muria, yang meliputi wilayah Jepara, Kudus, Pati, Blora, Rembang. Ciri khas dialek ini adalah digunakannya akhiran -em atau -nem (dengan e pepet) menggantikan akhiran -mu dalam bahasa Jawa untuk menyatakan kata ganti posesif orang kedua tunggal. Akhiran -em dipakai jika kata berakhiran huruf konsonan, sementara -nem dipakai jika kata berakhiran vokal. (www.wikipedia.com)

Contoh kata yang menggunakan dialek tersebut seperti misalnya kata ”kathok” yang berarti celana menjadi ”kathokem”, ”sikhil” yang berarti kaki menjadi ”sikhilem”, dan sebagainya. Ciri lainnya adalah sering digunakannya partikel “eh”, dengan vokal e diucapkan panjang, dalam percakapan untuk menggantikan partikel bahasa Jawa “ta”. Misalnya, “Aja ngono, eh!” (Jangan begitu, dong!), lebih banyak diucapkan daripada “Aja ngono, ta!”

Beberapa kosakata khas yang tidak dipakai dalam dialek Jawa yang lain antara lain “lamuk/jengklong” (nyamuk); “mbledeh/mblojet” (telanjang dada); “wong bento” (orang gila).

6. Dialek Surakarta-Yogyakarta

Bahasa Jawa Dialek Surakarta-Yogyakarta (Mataraman) adalah dialek Bahasa Jawa yang diucapkan di daerah Surakarta dan Yogyakarta, termasuk pula daerah-daerah di bagian tengah Pulau Jawa (memanjang dari Kabupaten Blitar di timur hingga Kabupaten Kendal di barat). Dialek ini merupakan Bahasa Jawa baku dan menjadi standar bagi pengajaran Bahasa Jawa baik di dalam negeri maupun secara internasional.  Bahasa Jawa Surakarta-Yogyakarta sejatinya merupakan pengembangan Bahasa Jawa baru gaya Mataraman, dengan bercirikan dialek “ό” (å) dalam berbagai kosakatanya, membedakannya dengan Bahasa Jawa kuno yang berdialek “a” (mirip Dialek Tegal-Banyumasan). Dialek Surakarta-Yogyakarta ini juga dikenal memiliki beberapa subdialek.

Bahasa Jawa baku mengenal undhak-undhuk basa dan menjadi bagian integral dalam tata krama (etiket) masyarakat Jawa dalam berbahasa. Dialek Surakarta sendiri biasanya menjadi rujukan dalam hal ini. Bahasa Jawa bukan satu-satunya bahasa yang mengenal hal ini karena beberapa bahasa Austronesia lain dan bahasa-bahasa Asia Timur seperti Bahasa Korea dan Bahasa Jepang juga mengenal hal semacam ini. Dalam sosiolinguistik, undhak-undhuk merupakan salah satu bentuk register.

Terdapat tiga bentuk utama variasi, yaitu ngoko (“kasar”), madya (“biasa”), dan krama (“halus”). Di antara masing-masing bentuk ini terdapat bentuk “penghormatan” (ngajengake, honorific) dan “perendahan” (ngasorake, humilific). Dialek lainnya cenderung kurang memegang erat tata-tertib berbahasa semacam ini.

Bahasa Indonesia: “Maaf, saya mau tanya rumah Kak Budi itu, di mana?”

Ngoko kasar       : “Eh, aku arȇp takόn, omahé Budi kuwi, níng ȇndi ?’

Ngoko alus          : “Aku nyuwún pírsa, dalemé Mas Budi kuwi, níng ȇndi ?”

Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kȇrså ndangu, omahé , Mas Budi kuwi, níng ȇndi ?” (ini dianggap salah oleh sebagian besar penutur Bahasa Jawa karena menggunakan leksikon krama inggil untuk diri sendiri)

Madya: “Nuwun séwu, kulå ajȇng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi ?” (ini krama desa (substandar))

Madya alus: “Nuwun séwu, kula ajeng tanglȇt, dalȇmé Mas Budi niku, ‘tȇng pundi ?” (ini juga termasuk krama desa (krama substandar))

Krama andhap: “Nuwun séwu, dalȇm badhe nyuwún pírså, dalȇmipún Mas Budi punikå, wontȇn pundi ?” (Dalȇm itu sebenarnya pronomina persona kedua, kagungan dalȇm ‘kepunyaanmu’. Jadi ini termasuk tuturan krama yang salah alias krama desa)

Krama lugu: “Nuwun séwu, kulå badhé takén, griyanipún Mas Budi punikå, wontȇn pundi ?”

Krama alus: “Nuwun séwu, kulå badhe nyuwún pírsa, dalȇmipún Mas Budi punikå, wontȇn pundi ?”

*níng adalah bentuk percakapan sehari-hari dan merupakan kependekan dari bentuk baku ånå íng yang disingkat menjadi (a)níng.

Dengan memakai kata-kata yang berbeda dalam sebuah kalimat yang secara tata bahasa berarti sama, seseorang bisa mengungkapkan status sosialnya terhadap lawan bicaranya dan juga terhadap yang dibicarakan. Walaupun demikian, tidak semua penutur Bahasa Jawa mengenal semuanya register itu. Biasanya mereka hanya mengenal ngoko dan sejenis madya.

Sedangkan dari segi budaya bahwa daerah yang semakin dekat dengan pusat budaya (Surakarta dan Yogyakarta), maka dialek yang digunakan oleh masyarakat penutur juga akan semakin halus atau menyerupai ”standart Bahasa Jawa”. Tetapi sebaliknya, jika suatu daerah semakin jauh dari pusat budaya, maka dialek yang digunakan pun juga akan semakin menjauhi dialek ”Standart Bahasa Jawa” atau sering dianggap dengan dialek kasar.

Penulis : Muhammad Syafiq/Hus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *