PURWOKERTO — Lebih dari 100 mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memadati Pendopo Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) pada Senin (18/5/2026) malam. Kehadiran massa yang masif ini bertujuan untuk mengikuti kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi bertema “Dokumenter Reformasi” yang berlangsung khidmat sejak pukul 19.00 hingga 22.45 WIB.

Acara yang diinisiasi secara kolektif oleh mahasiswa lintas fakultas yang tergabung dalam Lingkar Sosial Politik ini dikemas secara dinamis. Tidak hanya menyuguhkan pemutaran film sejarah kelam Orde Baru, agenda malam itu juga diselingi dengan ruang diskusi kritis, penampilan musik mahasiswa, dan ditutup secara emosional dengan aksi simbolis peletakan bunga serta penyalaan api lilin sebagai lambang menjaga asa pergerakan.
Jabar, mahasiswa FPIK sekaligus perwakilan dari Lingkar Sospol, menyatakan bahwa acara ini merupakan milik seluruh mahasiswa dan berfungsi sebagai wadah aman untuk menyuarakan pendapat secara merdeka tanpa sekat akademis.
“Yang kita tahu, pemerintahan sekarang itu perlu pembenahan yang lebih. Jadi ini adalah suatu wadah untuk memantik semangat kita bersuara. Di ruang diskusi ini kita bebas berpendapat, karena biasanya di ruang kelas mungkin masih ada rasa ketakutan,” ungkap Jabar usai acara.
Soroti Relevansi Krisis Struktural dan Isu Nasional
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed 2026, Azza Febra Pramudika, menegaskan bahwa pemutaran dokumenter ini bertujuan untuk membangunkan kembali semangat reformasi 98. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi langkah konsolidasi dan pemantik semangat jelang aksi demonstrasi yang dijadwalkan pada 21 Mei mendatang.
“Selain merefleksikan kejadian tahun ’98, kita juga merumuskan kembali gerakan mahasiswa hari ini. Film yang ditonton malam ini sangat relevan dengan kondisi negara sekarang, di mana krisis politik, ekonomi, dan represifitas aparat masih menjadi ancaman nyata,” tegas Azza.
Dampak edukatif dari pemutaran film ini diakui langsung oleh mahasiswa yang hadir. Anton Lazarus, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB), mengaku mendapat pandangan baru yang membuka matanya mengenai bobroknya masa lalu dan relevansinya dengan ancaman kebijakan saat ini di era pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Sebagai orang yang awalnya awam politik, setelah menonton ini saya merasa tercerdaskan. Kita jadi tahu bahwa isu seperti militerisme dan RUU TNI yang bergulir saat ini secara tidak langsung akan berdampak langsung ke dapur rumah kita, bahkan mengusik masa depan kita sebagai tenaga kerja setelah lulus nanti,” ujar Anton.
Peringatan Repetisi Sejarah dan Kebijakan ‘Top-Down’
Kritik tajam juga datang dari perspektif hukum yang disampaikan oleh Jeremi, mahasiswa Fakultas Hukum (FH). Ia mengingatkan mahasiswa untuk terus mengawal jalannya pemerintahan agar tidak terjadi pengulangan sejarah yang menyakitkan dari era Orde Baru.
Jeremi menyoroti lahirnya kebijakan baru yang dinilai mirip dengan pola lama, seperti Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Koperasi Desa Merah Putih.Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi mengulang kegagalan Koperasi Unit Desa (KUD) zaman Orde Baru karena bersifat top-down (instruksi dari atas), bukan lahir dari kebutuhan riil masyarakat daerah.
“Penting bagi kita untuk belajar dari sejarah agar lembaran kelam tidak terulang. Kita sebagai mahasiswa harus tetap kreatif dan kritis terhadap kebijakan pemerintahan ke depan demi kenyamanan anak cucu kita kelak,” kata Jeremi

Simbolisme Peletakan Bunga dan Nyala Lilin
Setelah sesi diskusi interaktif yang panas dan penampilan musik yang membakar semangat, acara malam itu diakhiri dengan prosesi teatrikal yang penuh haru. Ratusan mahasiswa berdiri melingkar untuk melakukan peletakan bunga secara simbolis sebagai bentuk penghormatan terhadap para pahlawan reformasi yang gugur.
Acara kemudian mencapai puncaknya saat Pendopo FPIK digelapkan, dan satu per satu api lilin mulai dinyalakan. Nyala lilin di tengah kegelapan malam tersebut menjadi simbol komitmen bersama bahwa “api reformasi” dan nalar kritis mahasiswa Unsoed tidak akan pernah padam.
Melalui sinergi nobar, seni, diskusi, dan aksi simbolis ini, mahasiswa Unsoed mengirimkan pesan kuat ke luar kampus bahwa idealisme pergerakan mereka siap disalurkan menuju aksi nyata pada tanggal 21 Mei mendatang
Reporter : Huda/Hus, Fathan/Hus, Yoga/Hus, Adam/Hus, Giri/Hus, Puji/Hus
Penulis : Puji/Hus
Fotografer : Yoga/Hus
Editor : Arga/Hus



