Setiap organisasi, komunitas, maupun UKM dibangun atas dasar kerja sama. Ada orang yang rela menyumbangkan waktu, tenaga, dan pikirannya demi kemajuan bersama. Namun, tidak jarang terdapat individu yang memilih jalan berbeda: menikmati hasil tanpa berkontribusi secara sepadan. Mereka hadir ketika ada sertifikat, dokumentasi, relasi, atau keuntungan yang bisa diperoleh. Namun ketika organisasi membutuhkan tenaga, ide, dan tanggung jawab, keberadaannya mendadak sulit ditemukan. Dalam banyak kasus, mereka bahkan tetap ingin diakui sebagai bagian penting dari keberhasilan yang sebenarnya dibangun oleh kerja keras orang lain.
Perilaku semacam ini ibarat parasit dalam sebuah ekosistem. Ia hidup dari sumber daya yang disediakan pihak lain tanpa memberikan manfaat yang sebanding. Mungkin dampaknya tidak langsung terlihat, tetapi lambat laun dapat menggerus semangat anggota yang benar-benar bekerja.Salah satu bentuk parasitisme yang sering luput disadari adalah sikap oportunis dalam kerja sama. Ketika program kerjanya sendiri sedang berjalan, seseorang bisa terlihat sangat aktif, penuh semangat, bahkan tidak segan meminta bantuan dari berbagai divisi untuk memastikan kegiatannya sukses. Semua orang dianggap penting, semua tenaga dianggap dibutuhkan, dan semua anggota diharapkan siap membantu.
Namun situasinya berubah ketika divisi lain menjalankan program kerjanya. Orang yang sebelumnya begitu aktif meminta bantuan justru menjadi sosok yang paling sulit diajak berkontribusi. Permintaan bantuan yang dulu dianggap sebagai bentuk solidaritas bersama kini dipandang sebagai beban. Semangat yang dulu berkobar mendadak meredup ketika manfaat langsung tidak lagi mengarah kepadanya.
Ironisnya, orang seperti ini sering kali tidak menyadari kontradiksi dalam perilakunya. Ia ingin organisasinya berjalan dengan semangat gotong royong ketika dirinya membutuhkan bantuan, tetapi tidak memiliki semangat yang sama ketika orang lain membutuhkan dirinya. Solidaritas baginya bukanlah nilai yang dijalankan bersama, melainkan fasilitas yang hanya digunakan saat menguntungkan dirinya sendiri.
Yang lebih memprihatinkan, sebagian orang merasa bahwa selama namanya masih tercantum dalam kepengurusan, maka tugasnya telah selesai. Padahal organisasi tidak dibangun oleh daftar nama, melainkan oleh kontribusi nyata. Jabatan tanpa tanggung jawab hanyalah tulisan di atas kertas.
Setiap anggota tentu memiliki kesibukan masing-masing. Tidak ada organisasi yang menuntut seseorang bekerja tanpa henti. Namun ada perbedaan besar antara anggota yang sedang memiliki keterbatasan dan anggota yang sengaja menghindari tanggung jawab sambil tetap menikmati keuntungan organisasi. Pada akhirnya, kualitas sebuah organisasi tidak ditentukan oleh banyaknya anggota, tetapi oleh banyaknya orang yang benar-benar peduli. Sebab organisasi yang sehat membutuhkan kontributor, bukan penumpang; membutuhkan pelaku, bukan sekadar pengamat; membutuhkan orang yang siap bekerja, bukan hanya siap mengklaim hasil.
Organisasi tidak akan rusak karena kekurangan orang pintar, melainkan karena terlalu banyak orang yang hanya mengerti cara meminta bantuan tanpa pernah merasa perlu membalasnya. Mereka ingin diprioritaskan ketika membutuhkan, tetapi menghilang ketika dibutuhkan. Mereka ingin dihargai atas kontribusi kecilnya, tetapi tidak menghargai pengorbanan besar yang dilakukan orang lain. Jika setelah membaca tulisan ini seseorang merasa tersindir, mungkin yang perlu dipertanyakan bukanlah tulisannya, melainkan alasan mengapa ia merasa tersindir.
Penulis : Unknown
Editor : Arga

