Opini

Implementasi Filosofi Stoikisme di Era Banyaknya Isu Mental Health di Kalangan Mahasiswa

Mental health atau kesehatan mental menjadi isu yang sangat sering di bincangkan di beberapa platform media sosial. Karena menurut beberapa orang kesehatan mental sangat penting dijaga untuk keberlangsungan hidup yang lebih baik. Banyak sekali berita berita yang tidak mengenakan seperti meninggalnya beberapa mahasiswa/i yang disebabkan oleh kesehatan mental seperti stress yang berlebihan sampai mengalami depresi. Tentunya hal ini menjadi tantangan bagi semua orang untuk saling menjaga kesehatan mental satu sama lain demi menghindari hal hal yang tidak diinginkan.

Jauh berabad-abad yang lalu hadir salah satu ajaran yang mungkin masih relevan sampai sekarang dimana ajaran itu mengajarkan kita supaya lebih mengenal diri sendiri dan mengendalikan diri dari apapun situasi yang terjadi. Namanya adalah stoikisme, ajaran filsafat yang berasal dari Yunani pada abad ke 3 SM yang penemunya bernama Zeno. Tahun ketahun ajaran ini berkembang dari mulai Seneca, Epictetus, bahkan sampai ke kaisar Romawi yaitu Marcus Aurelius. Dalam berbagai aspek yang menurut saya mempunyai makna yang baik guna menghadapi segala tantangan tentang kesehatan mental. Salah satunya yaitu “Dikotomi Kendali”. Dikotomi kendali adalah pembedaan antara dua hal yaitu hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Hal hal yang ada di dalam kendali kita meliputi pikiran, emosi, pilihan, sikap, tindakan kita sendiri. Sedangkan hal hal yang diluar kendali kita yaitu seperti pendapat orang lain, cuaca, dan kematian. Konsep dikotomi kendali mengajarkan kepada kita bahwa sebaiknya fokus hanya pada hal-hal yang berada dalam kendali kita, dan tidak membuang energi atau stres terhadap hal-hal di luar kendali kita. 

Saya kasih contoh, misal saya dapat nilai yang jelek dan teman teman saya mengejek saya akan nilai yang saya dapat. Nah disitu saya bisa menyikapinya dengan dua hal, yang pertama yaitu marah dan sakit hati akan ejekan tersebut, atau yang kedua lebih memilih diam dan menjadikan hal tersebut sebagai evaluasi buat saya untuk lebih baik kedepannya? Tentu kalau kita sudah belajar dikotomi kendali pasti akan memilih menyikapi tindakan tersebut pada pilihan yang kedua karena ejekan tersebut merupakan keadaan external yang kita ngga bisa kendaliin dan cara kita menyikapinya itu merupakan keadaan internal yang bisa kita kendaliin. Daripada membuang energi marah marah dan sakit hati mending saya buat kejadian itu menjadi pembelajaran.

Untuk solusi kasus terjadi banyaknya mental health dikalangan mahasiswa, alangkah baiknya mahasiswa mempelajari konsep dikotomi kendali ini supaya bisa mengontrol diri dan menyikapi keadaan yang terjadi, karena dampak positif dikotomi kendali yaitu dapat membuat kita mengurangi kecemasan, menumbuhkan ketenangan batin, dan membantu menerima kenyataan yang terjadi.

Saya paham konsep ini sangat amat susah untuk diterapkan di realitanya, akan tetapi ketika kita sudah bisa mengimplementasikannya saya yakin isu mental health ini dapat diatasi.

Seperti kata Marcus Aurelius “Kamu memiliki kekuasaan atas pikiranmu – bukan atas kejadian di luar. Sadarilah ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.”

Referensi : H. Manampiring. 2018. Filosofi Teras. Penerbit Buku Kompas, Jakarta.

Penulis : Puji Ramadhani

Leave a Reply

Your email address will not be published.