Sektor peternakan Indonesia masih memegang posisi penting dalam penyediaan protein hewani nasional. Data BPS tahun 2024 menunjukkan usaha peternakan rakyat tetap mendominasi dengan sebaran yang luas di berbagai provinsi. Kondisi ini menjadikan keberlanjutan tenaga pelaku usaha peternakan sebagai isu strategis. Regenerasi peternak mulai menjadi perbincangan serius karena mayoritas pelakunya sudah berusia lanjut.
Dilansir dari Tempo.co, rata-rata umur peternak sapi perah dilaporkan berada di kisaran 56 tahun. Angka ini menggambarkan bahwa pelaku peternakan semakin didominasi generasi yang mendekati masa pensiun. Kekurangan tenaga muda menyebabkan rantai produksi susu dan daging berpotensi melemah jika tidak segera dilakukan percepatan regenerasi. Situasi tersebut membuat peternakan menghadapi risiko berkurangnya produktivitas nasional.

Persentase petani muda hanya sekitar 2,14% dari total petani nasional sehingga dapat digambarkan bahwa minat generasi muda terhadap profesi bercocok tanam maupun beternak masih rendah. Penurunan jumlah petani selama satu dekade terakhir juga memperjelas bahwa profesi hijau sudah tidak lagi menjadi pilihan utama anak muda. Realitas ini menunjukkan bahwa regenerasi pada subsektor peternakan kemungkinan mengalami pola serupa.
Peluang bagi Gen Z sebenarnya cukup besar jika peternakan dipandang sebagai sektor yang modern dan menjanjikan. Dunia peternakan kini mulai membuka ruang baru melalui penggunaan manajemen digital, sensor monitoring kesehatan ternak, pakan presisi, serta akses pemasaran berbasis teknologi. Perubahan tersebut menghadirkan wajah baru peternakan sebagai profesi profesional, bukan sekadar pekerjaan turun temurun. Tren munculnya peternak muda di beberapa wilayah menurut memberi sinyal bahwa minat generasi muda masih dapat tumbuh.
Tantangan yang harus dihadapi Gen Z tidak sedikit. Skala usaha peternakan rakyat masih kecil, biaya produksi tinggi, dan risiko penyakit hewan seperti PMK menjadi kendala utama. Akses lahan serta modal juga masih menjadi hambatan bagi pemula yang ingin memulai usaha ternak. Kurangnya pendampingan teknis modern serta minimnya literasi bisnis membuat profesi peternak tidak terlihat menarik bagi sebagian besar generasi muda. Kompleksitas inilah yang menjadikan regenerasi memerlukan dukungan kebijakan yang kuat.
Masa depan peternakan nasional sangat bergantung pada keberanian dan minat generasi muda untuk terjun ke profesi hijau ini. Kesempatan untuk menghadirkan inovasi terbuka lebar jika Gen Z mendapat dukungan kelembagaan, insentif, pendidikan teknis, dan akses pembiayaan yang memadai. Investasi dalam sumber daya manusia menjadi kunci untuk menciptakan peternakan yang berkelanjutan dan berdaya saing. Kehadiran Gen Z sebagai pelaku baru akan menentukan apakah peternakan Indonesia mampu bertahan menghadapi tantangan zaman atau justru tertinggal.
Referensi:
Badan Pusat Statistik. 2024. Peternakan Dalam Angka 2024. Badan Pusat Statistik. Diakses pada 6 Desember 2025.
Tempo.co. 2025. https://www.tempo.co/ekonomi/usia-rata-rata-peternak-sapi-perah-56-tahun-kemenperin-soroti-regenerasi-dan-stok-20-persen-168834. Diakses pada 6 Desember 2025.
Penulis: Lusi/Hus
Editor: Lusi/Hus



