Sastra

Denting Luka

Terinspirasi dari lagu “Resah Jadi Luka” oleh Daun Jatuh

Aku tidak pernah membayangkan bahwa sesuatu yang hangat bisa berubah menjadi dingin begitu cepat. Dulu, aku dan dia berjalan seperti dua orang yang yakin akan arah yang sama—meski terkadang salah dalam mengambil langkah, meski terkadang akan terdiam terlalu lama, tapi kami tetap merasa saling menemukan. Dia adalah jeda di antara kerasnya hidupku; seseorang yang hadir bukan untuk memecahkan masalahku, tapi sekadar duduk di sampingku agar kesedihanku tidak terasa sendirian.

Aku masih ingat aroma kopinya di kedai sore itu, suara tawa yang ringan di panggilan suara malam itu, dan cara ia selalu menyapaku dengan senyum yang menenangkan. Namun perlahan, tanpa suara, aku mulai menyadari bahwa langkahnya tidak lagi seirama denganku. Ia masih ada, tapi tidak sepenuhnya tinggal. Ada ketakutan kecil yang tumbuh diam-diam setiap
kali ia pulang malam tanpa kata pamit yang dulu selalu ia ucapkan dengan lembut.

Sore itu, kami duduk di bangku taman yang sama—bangku yang menjadi saksi bertemunya dia dan diriku dan saksi tawa-tawa kecil yang kini hanya menjadi bagian dari ingatan. Awan sore bergerak pelan, angin mendorong dedaunan jatuh satu per satu, seolah alam ikut memberi tanda bahwa ada sesuatu yang sebentar lagi akan gugur.

Aku menatapnya, mencoba menangkap tatapannya, tapi matanya menghindar. “Kita udah berusaha,” katanya pelan, suaranya tidak bergetar tapi jelas menahan sesuatu. Aku terdiam. Ingatan tentang malam-malam kami bercakap hingga tengah malam muncul, ketika ia bercerita tentang mimpinya, dan aku merasa dunia kami hanya milik kita berdua. “Aku masih ingat, waktu kamu bilang kalau aku bisa jadi siapa saja kalau aku percaya diri,” aku hampir tersenyum, tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Ia hanya menatapku dengan mata sendu, tanpa mengucap sepatah kata pun.


Aku mengangguk, berusaha terlihat kuat meski di dalam, hatiku runtuh. “Aku nggak mau bikin kamu nunggu sesuatu yang aku sendiri nggak yakin,” ujarnya akhirnya. Dan kalimat itu menghantamku seperti batu besar. Aku teringat malam-malam ketika ia tetap di sisiku meski aku menangis tanpa henti, teringat bagaimana tangannya selalu menemukan cara untuk
menenangkan rasa cemasku, dan bagaimana setiap kata yang ia ucapkan dulu selalu terasa seperti janji yang tak tergoyahkan.


Aku teringat saat ia menemaniku saat hujan deras, basah kuyup tapi tetap memelukku di pinggir jalan, dan malam-malam ketika kami tertawa di atas motor hanya karena kita saling melempar lelucon. Aku masih bisa merasakan hangatnya tubuhnya meski dingin membasahi kami, suara tawanya yang selalu berhasil mencairkan ketegangan dalam dadaku, dan cara matanya bersinar ketika melihatku tersenyum walau hanya karena hal kecil.

Semua itu kini terasa jauh, jauh sekali tapi, dan rasa sakitnya terasa begitu nyata. Aku ingin memeluknya sekali lagi, ingin memintanya untuk tetap tinggal, tapi bibirku kelu dan semua kata itu hanya tertinggal di tenggorokan, dan tak akan pernah terucap.

Kami berjalan pulang dengan langkah yang hati-hati, seperti dua orang yang takut menginjak kenangan di sepanjang jalan. Udara dingin menempel di kulitku, tapi kehangatan terakhir dari tangannya sudah tidak lagi tersisa.


Aku teringat sore-sore ketika kami duduk di kafe pinggir jalan, lagu “Bertaut” Nadin Amizah terdengar, aku teringat bagaimana ia memegang tanganku di tengah dinginnya hujan sore itu, ia berkata, “Kalau dunia terlalu keras, kita punya satu sama lain.” Kini semua itu hanyalah bayangan yang menempel di ingatan. Kini aku sendiri, tapi perasaan itu masih menempel, membuatku tersadar bahwa cinta sejati tidak selalu tentang bersatu, kadang tentang memberi ruang agar satu sama lain tumbuh.


Di depan rumahku, ia berhenti sebentar. “Jaga diri, ya,” katanya, kalimat sederhana yang dulu terasa manis, kini seperti pisau yang perlahan menusuk, perih sekali rasanya saat mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Aku mengangguk, menahan air mata, sementara ia tersenyum kecil—senyum yang lebih mirip permintaan maaf daripada salam perpisahan.

Malam itu aku duduk lama di kamar, sendirian, membiarkan kesunyian menjadi satu satunya teman. Aku memikirkan hal-hal kecil: pesan-pesan pagi yang tidak lagi akan datang, jokes bapak-bapak yang sering ia lontarkan, suara tawa yang tidak akan lagi bisa kutangkap, dan cara ia memanggil namaku yang kini hanya menjadi gema samar di kepalaku. Lagu-lagu dari playlist yang kita buat bersama kala itu terdengar di kepala, seolah ingin menenangkan hati yang sakit.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasanya bagi dunia, tapi tidak bagiku. Setiap lagu yang pernah ia kirimkan terasa seperti surat dari orang yang tidak bisa kutemui lagi. Kadang aku merasa baik-baik saja, lalu tiba-tiba berhenti di trotoar karena ingatan sederhana—cara ia tertawa, cara ia menyisir rambutnya sambil mengunyah permen karet, cara ia selalu tahu kapan aku pura-pura baik-baik saja. Semua itu datang tanpa izin, membanjiri pikiran dan hati, membuatku sadar bahwa ia memang tidak pergi begitu saja; ia tetap hidup di setiap detail yang dulu kami bagi.


Aku teringat kata-katanya saat ia menangis di teras sore itu, “Aku takut kalau aku tetap di sini, kita justru hancur bersama.” Dan aku hanya bisa memeluknya, menahan rasa sakitku sendiri, karena aku tahu itu adalah kebenaran yang sulit diterima. Aku masih bisa merasakan getaran tubuhnya yang gemetar, aroma hujan yang menempel di rambutnya, dan cara tangannya mengepal di punggungku seakan ingin tetap bertahan.


Dalam diam itu, aku ingin berjanji bahwa aku akan selalu ada untuknya, meski bukan di sisinya lagi, ingin membisikkan bahwa aku mengerti semua ketakutannya, namun kata-kata itu terjebak di tenggorokan. Setiap tetes air matanya terasa seperti luka yang menempel di hatiku sendiri, dan aku sadar bahwa mencintai seseorang terkadang berarti melepaskan mereka agar
mereka tetap utuh.


Yang paling menyakitkan bukanlah perpisahan itu sendiri. Yang paling menyakitkan adalah menerima bahwa ia pergi bukan karena tidak mencintaiku, tetapi karena cintanya tidak lagi cukup untuk membuat kami terus berjalan. Ironisnya, justru karena ia pernah begitu mencintaiku, ia memilih pergi sebelum hubungan ini berubah menjadi saling melukai. Dan itu membuatku sulit membencinya. Aku hanya belajar menerima bahwa beberapa cinta memang tidak diciptakan untuk sampai ke akhir yang sama, meski awalnya terasa sangat benar.

Kadang, saat malam sangat sepi, aku masih merasakan kehadirannya dalam ingatan yang lembut. Tapi kini aku tidak lagi menangis saat mengingatnya. Ada sedih yang menetap, iya. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh, tentu. Namun bersamaan dengan itu, ada rasa syukur karena aku pernah merasakan dicintai seseorang dengan cara seindah itu, meski akhirnya harus kulepaskan.


Karena selesai bukan berarti hilang. Perpisahan bukan berarti tidak pernah ada kita. Kita masih ada—di dalam hati, di dalam kenangan, dan di dalam pelajaran yang membentuk kita menjadi lebih dewasa, lebih peka, dan lebih mampu mencintai lagi, meski sendirian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.