Opini

“Rakyat Desa Ga Pakai Dollar Kok”, Dampak melemahnya mata uang rupiah terhadap masyarakat

Nilai tukar rupiah terhadap mata uang dollar Amerika Serikat (USD), mencatatkan pelemahan yang signifikan pada perdagangan internasional pada hari Jumat (15/05/2026), hingga mencapai angka Rp. 17.600 per dollar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah masa libur panjang domestik, yang dipicu oleh eskalasi ketegangan Timur Tengah serta prospek kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat (Sindo News, 15/05/2026)

Presiden Prabowo Subianto menanggapi terkait penurunan nilai mata uang Rupiah ini. Meski nilai tukar rupiah anjlok sangat dalam, Prabowo menepis anggapan negatif terkait perekonomian Indonesia yang diramal suram. “Saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar “Indonesia akan collapse, akan chaos”… Orang rakyat di desa enggak pake dolar kok,” kata Prabowo saat peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Apakah benar penurunan nilai mata uang Rupiah ini tidak berdampak padai masyarakat di desa? Mari kita bahas.

Dalam ekonomi makro, dampak nilai tukar tidak bekerja hanya pada orang yang memegang atau menggunakan dollar secara langsung.

Justru dalam sistem ekonomi terbuka seperti Indonesia hari ini, pelemahan rupiah akan menjalar melalui banyak saluran: harga pangan, energi, pupuk, transportasi, obat-obatan, bahan baku industri, hingga biaya distribusi barang kebutuhan pokok.

Artinya, rakyat kecil di desa tetap terdampak meskipun tidak pernah bertransaksi menggunakan dollar.

Literatur ekonomi internasional menyebut mekanisme ini sebagai “exchange rate pass-through”, yaitu proses ketika perubahan nilai tukar diteruskan ke harga domestik dan akhirnya memengaruhi inflasi serta daya beli masyarakat.

IMF dan Bank Dunia berkali-kali menegaskan bahwa negara berkembang sangat rentan terhadap gejolak kurs karena struktur ekonominya masih bergantung pada impor energi, bahan baku, teknologi, dan pangan tertentu. Dan Indonesia termasuk dalam kategori itu.

Petani di desa memang menjual hasil panen dalam rupiah. Namun pupuk yang mereka gunakan dipengaruhi harga global. Solar untuk traktor dipengaruhi harga energi internasional. Ongkos distribusi hasil panen dipengaruhi harga BBM dan logistik.

Bahkan harga pakan ternak, obat pertanian, serta berbagai kebutuhan pokok masyarakat desa juga sangat sensitif terhadap pelemahan rupiah (Jatimnow. com) Oleh karena itu, menyatakan penurunan nilai mata uang rupiah tidak berdampak untuk masyarakat desa sangat salah, hanya karna di desa menggunakan mata uang rupiah, tentunya penurunan nilai akan berdampak secara tidak langsung untuk petani dan peternak lokal. statemen Presiden Prabowo Subianto tersebut sangat disayangkan karena beliau tidak melihat dari sisi rakyat di desa yang mata pencaharian utamanya sebagai petani dan peternak.

Penulis : Alzevi

Leave a Reply

Your email address will not be published.