Cerpen

Gerbong kosong

Di antara suara kereta dan langkah kaki, hanya kesunyian yang tersisa untukku.

Siang itu Stasiun terasa lebih ramai dari biasanya, atau mungkin hatiku saja yang terlalu
berisik. Pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan melalui pengeras suara, bercampur
dengan derit roda koper yang diseret terburu-buru dan langkah kaki orang-orang yang tidak
ingin tertinggal. Koper kecilku berdiri di samping kaki, sementara tiket sudah kusimpan rapi
sejak tadi, takut tanganku akan gemetar saat harus menunjukkannya.
Angin dari arah rel membawa bau besi dan debu yang akrab sekaligus asing, tapi ada sesuatu
lagi — wangi parfum yang samar-samar menguar di udara, seolah baru saja tertinggal di
peron. Seketika hatiku mencelos. Wangi itu terlalu familiar. Aku pernah berdiri terlalu dekat
untuk melupakannya—di sebuah sore, di mana kamu tertawa tanpa alasan jelas, dan aku
pura-pura tidak menyadari bahwa sejak saat itu aku mulai memperhatikan hal-hal kecil
tentangmu.
Aku memandangi papan jadwal keberangkatan lebih lama dari seharusnya, seolah waktu
bisa melambat jika aku pura-pura tidak siap. Padahal ini bukan keberangkatanku yang
pertama. Dulu, pergi adalah hal yang biasa—ringan, tanpa banyak yang ditinggalkan. Tapi
sekarang, bahkan sebelum melangkah, aku sudah merasa kehilangan sesuatu yang belum
benar-benar pergi.
Kereta datang dengan suara gemuruh yang memecah percakapan-percakapan kecil di
peron. Orang-orang mulai bergerak, menarik koper, dan menata barang bawaan mereka. Aku
mengangkat koperku perlahan, menyesuaikan langkah, dan menoleh ke belakang sekali lagi.
Dulu, di tempat yang hampir sama, aku pernah menoleh seperti ini juga—dan kamu benar-
benar ada di sana. Melambaikan tangan sambil bercanda, “Jangan lama-lama, nanti lupa jalan
pulang.” Waktu itu aku hanya tertawa, tidak pernah benar-benar memikirkan arti kalimat itu.
Sekarang, aku menoleh lagi, dan kamu tidak ada.
Aku masuk ke dalam gerbong dan duduk di kursi dekat jendela. Tanganku saling
menggenggam di atas pangkuan, mencoba menenangkan diri. Di luar, peron masih terlihat
jelas, tapi perlahan akan menghilang.
“Aku beneran pergi ya…” bisikku pelan. Kalimat itu terasa aneh. Seperti mengakui sesuatu
yang sebenarnya tidak ingin kuakui.
Hingga langkah kaki terdengar di lorong gerbong.
Awalnya biasa saja. Tapi entah kenapa, aku merasa harus menoleh. Dan saat aku
melakukannya—kamu ada di sana.
Sejenak, semuanya terasa seperti flashback yang salah tempat. Seperti ingatan yang
terlalu nyata.
“Kamu… di sini?” suaraku nyaris tak terdengar.
Kamu tersenyum tipis, napasmu masih belum teratur.
“Aku hampir nggak jadi,” katamu.
Kalimat itu langsung menarikku ke ingatan lain—malam ketika kamu pernah bilang, “Aku
tuh orangnya gampang batal kalau ragu.” Waktu itu aku hanya menjawab, “Berarti kamu
sering ragu dong?” dan kamu tertawa.
Sekarang, rasanya berbeda.
“Terus kenapa jadi?” tanyaku.
Kamu duduk di sebelahku, cukup dekat untuk menghadirkan kembali semua hal yang
selama ini kucoba abaikan. “Karena aku nggak mau nyesel,” jawabmu pelan.
Aku menatapmu. “Kamu takut nyesel?”
“Iya,” kamu mengangguk. “Takut kalau aku biarin kamu pergi… tanpa aku benar-benar ada di
sini.” Kalimat itu menggantung, tapi cukup untuk mengisi ruang di antara kita.
Hening, aku mencoba abai dengan hadirmu disampingku. Pura-pura memperhatikan
keluar jendela, tapi kepalaku melayang jauh entah kemana.
“Kupikir aku nggak akan,” lanjutmu. “Tapi setelah melihat kamu naik dan aku enggak lihat
kamu lagi, aku sadar… aku belum siap kalau ini benar-benar terakhir.”
Kata “terakhir” membuatku teringat satu malam, ketika kita duduk terlalu lama di pinggir
jalan, berbicara tentang hal-hal yang tidak penting. Kamu pernah bilang, “Aku nggak suka kata
terakhir.” Dan aku setuju, tanpa tahu kenapa.
“Terakhir itu berat ya,” kataku pelan.
Kamu tersenyum kecil. “Makanya aku datang.”
“Perjalanan berapa lama?” tanyamu.
“Sekitar lima jam.”
“Masih lama ya,” katamu.
Aku mengangguk. “Iya… tapi dulu kita pernah ngerasa lima jam itu cepet banget.”
Kamu langsung paham maksudku. Itu tentang perjalanan kita waktu itu—naik motor tanpa
tujuan jelas, berhenti di mana saja, dan pulang saat langit sudah gelap. Waktu terasa cepat
karena kita tidak sedang menghitungnya.
“Iya,” kamu tertawa kecil. “Sekarang enam jam rasanya… panjang banget.” “Kamu takut?”
tanyamu lagi.
Aku diam sejenak. “Iya. Tapi bukan sama perjalanannya.”
“Terus?” jawabmu.
Aku menatapmu. “Takut nanti… kita jadi kayak orang asing.”
Kamu tidak langsung menjawab. Tapi matamu berubah—lebih serius. “Kita pernah nggak
sih bener-bener jadi asing?” tanyamu pelan.
Aku berpikir. “Belum.”
“Ya udah,” jawabmu. “Jangan mulai sekarang.”
Aku tersenyum kecil. “Sesimpel itu?”
“Enggak,” kamu menggeleng. “Tapi kita bisa coba.”
“Aku cuma sampai pemberhentian berikutnya,” katamu pelan.
Kalimat itu terasa seperti batas yang tidak bisa dinegosiasikan.
“Aku tahu,” jawabku.
“Aku cuma ingin kamu tahu… kamu berarti.”
Aku terdiam. Kalimat itu mengingatkanku pada banyak hal kecil—cara kamu selalu
menungguku tanpa bilang, cara kamu mengingat hal-hal yang bahkan aku sendiri lupa, cara
kamu hadir tanpa perlu alasan.
“Aku tahu,” kataku akhirnya. “Dan itu cukup.”
Kereta mulai melambat.
Aku bisa merasakan waktu kita semakin sempit.
“Kamu yakin nggak ada yang mau kamu bilang lagi?” tanyaku.
Kamu diam sebentar, lalu tersenyum. “Banyak.”
“Terus?”
“Kepanjangan kalau sekarang,” jawabmu ringan, tapi matamu tidak bercanda.
Aku tertawa kecil. “Kamu selalu gitu.”
“Iya… biar ada alasan buat ketemu lagi,” katamu.
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuatku berharap tanpa sadar.
Kamu berdiri.
Aku masih duduk, menatapmu.
“Aku turun ya,” katamu.
Aku mengangguk. Beberapa detik kita hanya saling diam. Tidak ada yang bergerak lebih
dulu.
Aku teringat satu momen—ketika kita berpisah di persimpangan jalan, dan tidak ada dari
kita yang benar-benar mau melangkah duluan. Hari itu, kita akhirnya tertawa dan pergi ke
arah masing-masing. Hari ini, tidak ada tawa.
“Hati-hati,” kataku pelan.
“Kamu juga.”
Pintu terbuka.
Kamu turun.
Kali ini, kamu menoleh.
Dan aku juga.
Hanya sebentar.
Tapi cukup untuk disimpan lama.
Kereta kembali bergerak.
Tempat di sebelahku kosong.
Tapi kali ini, kosongnya berbeda.
Aku menatap ke luar jendela, melihat dunia bergerak mundur. Di kepalaku, potongan-
potongan kenangan berjalan maju—tawa, percakapan, diam yang nyaman.
Dan di antara semuanya, aku sadar satu hal— kita mungkin sedang berjalan ke arah yang
berbeda, tapi sebagian dari diriku akan selalu tertinggal di tempat-tempat yang pernah kita
bagi bersama.

Dan mungkin… itu alasan kenapa pergi kali ini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.

END-

Penulis : Dwi Rahma Aulia/Hus

Editor : Arga/Hus

Leave a Reply

Your email address will not be published.