Pentingnya Sex Education

Oleh : Naufal/Hus dan Faaz/Hus

Pict : Google

Sex education atau biasa kita kenal sebagai pendidikan seksual adalah pendidikan yang membahas segala hal yang berkaitan tentang kesehatan reproduksi. Pendidikan seksual memiliki tujuan agar para generasi penerus bangsa bisa mengenali dirinya sendiri dengan lebih baik, pendidikan seksual ini akan menciptakan generasi yang unggul dan sehat. Pendidikan seksual memiliki banyak manfaat yang mungkin tidak kita sadari. Namun, di Indonesia sendiri masih banyak sekali pelecehan yang terjadi akibat kurangnya sosialisasi mengenai pendidikan seksual. Masalah yang timbul dari kurangnya pendidikan seksual bukan hanya tentang pelecehan seksual saja, namun lebih dari itu, hamil di luar nikah, aborsi, pemerkosaan, dan bahkan pedofilia juga turut hadir akibat kurangnya pendidikan seksual di negara dengan populasi terbanyak ke-4 dunia.
Pembicaraan mengenai pendidikan seksual di Indonesia pada umumnya masih dianggap tabu untuk sebagian masyarakat kita. Hal ini tentu sangat disayangkan dalam menghindari banyaknya dampak negatif yang bisa ditimbulkan dari kurangnya pendidikan seksual, dimana khususnya, harus disosialisasikan kepada setiap anak menjelang masa remajanya. Salah satu kasus yang mungkin bisa kita ambil dari kurangnya pendidikan seksual di Indonesia adalah kasus yang dialami oleh Faradella Meilindasari, pengalaman yang telah Ia bagikan di vice.com dalam mencari kontrasepsi darurat (obat pencegah kehamilan) cukup menarik untuk dijadikan contoh kurangnya pendidikan seksual di Indonesia.
Dirinya menceritakan jika baru-baru ini Ia mengalami sendiri sulitnya mendapatkan pil pencegah kehamilan. Semua ini terjadi gara-gara insiden kondom. Saat Ia dan pasangan menyadari kondom yang mereka gunakan copot, mereka masih agak rileks. “Tenang, biar aku yang beresin,” ucapnya pada pasangan. Dengan santai, Ia meraih ponsel mencari apotek terdekat yang menjual pil pencegah kehamilan di Jakarta lewat Google. Di Amerika Serikat, negeri tempatnya bermukim 6 tahun terakhir, sangat mudah menemukan apotek 24 jam yang menjual macam-macam merk pil pencegah kehamilan. Di Singapura, yang juga pernah Ia jadikan tempat tinggal, dokter umum bersedia memberikan pil yang sama setelah konsultasi selama 10 menit.

Dia pun mulai merinding ketika pencarian via Google tak membuahkan hasil. Memang, ada beberapa artikel tentang cara membeli kontrasepsi darurat di apotek dan klinik. Tetapi, tulisannya standar dan tidak jelas akurasinya. Jangankan ada nomor yang bisa dihubungi, dirinya juga kebingungan lantaran apakah ada apotek 24 jam yang bisa didatangi. Dia mulai panik lalu segera mengirim pesan ke satu teman yang seumur hidupnya tinggal di Jakarta. Hingga akhirnya Ia mendapatkan obat tersebut di salah satu kios apotek yang ada di Blok M setelah gagal mendapatkannya di beberapa apotek yang telah Ia datangi.
Menurutnya pendidikan seks yang Ia terima di sekolah sama seperti sekolah lain yang mengadopsi nilai-nilai ‘ke-timuran’ sesuai yang diharapkan masyarakat Indonesia, pendidikan seks yang dimaksud hanya menjelaskan bagaimana proses bayi bisa lahir. Gurunya dulu menjabarkan juga panduan menjadi ibu dan istri yang baik. Masalahnya, tak ada sama sekali pemaparan apa yang harus dilakukan bila proses bikin bayi itu dilakukan ketika sudah dewasa. Dengan atau tanpa status pernikahan.
Tentu saja, asumsi orang adalah hindari seks di luar nikah bagaimanapun caranya. Sayang, ada banyak sekali anak muda Indonesia yang mengalami kejadian seperti dirinya. Survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012 menunjukkan bahwa 21,4% responden, dari rentang usia 15 hingga 24 tahun, melakukan seks pranikah. Data itupun hanya mengacu pada anak muda yang berani mengakui pada surveyor kalau mereka sudah melanggar tabu di negara ini. Jumlah riilnya bisa jauh lebih besar lagi, seandainya mereka berani mengakui sudah berhubungan badan sebelum menikah.
Seks di luar nikah itu sudah jadi rahasia umum, papar Soraya Alamsjah, dokter di Layanan Perempuan Klinik Prodia saat kuwawancarai. Menurutnya banyak sekali perempuan di Indonesia yang melakukannya. Setiap hari ada saja perempuan yang datang buat konsultasi sama saya, baik yang sudah ataupun belum menikah, untuk membahas mencegah kehamilan.”
Tentu saja, jumlah yang terlanjur hamil tak kalah banyak. Survei BPS yang sama mencatat enam dari 10 perempuan yang mengakui pernah melakukan seks pranikah terpaksa melakukan aborsi. Mereka nekat mengambil risiko itu, walaupun secara hukum aborsi tanpa ancaman pada nyawa ataupun karena kasus perkosaan dilarang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Soraya mengingatkan, agar opsi menggugurkan kandungan lewat klinik atau dukun bayi tanpa lisensi medis sebisa mungkin dihindari. “Tingkat kematiannya sangat tinggi untuk layanan aborsi ilegal,” ungkapnya. “Apapun alasannya, lebih baik yang dipikirkan adalah bagaimana menghindari kehamilan ketika seseorang belum siap secara fisik, emosional, maupun finansial untuk berkeluarga.”
Faradella juga membayangkan ada banyak anak muda, selain dirnya yang sama-sama mengalami hambatan dan penolakan ketika membicarakan akses terhadap kontrasepsi dalam bermacam bentuknya. Asti Widihastuti, konsultan independen di Klinik Angsamerah untuk seks dan kesehatan reproduksi, memberi penjelasan serupa. Penolakan dan diskriminasi terhadap pelaku seks pranikah ini lebih dilandasi nilai-nilai moral, bukannya medis.
Asti menjelaskan, kegagapan kita tiap kali menghindari topik-topik tabu tentang kehamilan dan seks di luar nikah menghasilkan risiko yang jauh lebih serius. “Perempuan yang belum menikah jadi takut untuk menjelaskan sejarah aktivitas seksual mereka selama ini, lalu menunda-nunda PAP smear ataupun suntik HPV,” kata Asti kepada VICE Indonesia. “Kondisi ini memprihatinkan.”
Kasus Faradella ini merupakan segelintir kasus yang diakibatkan dari kurangnya pendidikan seksual yang ada di Indonesia. Pendidikan seksual merupakan salah satu kunci untuk menciptakan generasi yang sehat dan bermoral. Pendidikan seksual juga berperan aktif dalam menekan tingkat kejahatan – kejahatan seksual yang ada di negeri ini, dengan pendidikan seksual setiap anak akan diajarkan bagaimana cara menjaga kesehatan mereka khususnya kesehatan reproduksinya, salah satunya yaitu menjaga organ – organ reproduksinya dari oknum-oknum kejahatan yang tidak bertanggung jawab dalam melakukan aksinya.
Orangtua dalam pendidikan seksual memiliki peran yang penting. Setiap anak akan lebih mudah dalam memahami inti dari pendidikan seksual jika orangtua mampu memberikan pemahaman mengenai pendidikan seksual. Sosialisasi ini juga hal yang penting dilakukan di lembaga pendidikan, baik Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah Pertama.

2 thoughts on “Pentingnya Sex Education

  • 09/01/2020 at 7:12 pm
    Permalink

    Dan salah satu bentuk seks edukasi yg dapat diterapkan/disampaikan sejak anak usia dini adalah dengan mengenalkan kepada mereka mana bagian2 yang tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain, serta mengajarkan kepada mereka tindakan/aksi apa yang harus mereka lakukan ketika mengalami tindakan kejahatan seksual

    Reply
    • 09/01/2020 at 7:19 pm
      Permalink

      Ini sudah sangat dasar..
      Dapat diterapkan ketika anak mulai sempurna otaknya. Ketika mereka sudah dapat berkomentar, berargumen, analisis, beropini. Mudahnya ketika mereka sudah dapat membedakan hal yg hak dan bathil

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *