Lika-Liku Jalan Peternak Layer

mediahusbandry.com- Sebulan terakhir, penjualan telur peternak layer khususnya di Pulau Jawa masih mengalami penurunan. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan kenaikan harga pakan, khususnya harga jagung sebagai bahan utama pakan yang naik cukup signifikan. Berbagai kondisi itulah yang membuat peternak mencoba untuk berdamai dengan keadaan dan berjibaku untuk tetap mepertahankan dan melanjutkan usahanya.

Berdasarkan Permendag No. 7 Tahun 2020, harga jual telur di tingkat peternak sebesar Rp 19.000-20.000 per kg, sementara kondisi harga saat ini  di kisaran Rp 14.000-19.000 per kg (17/9). Harga jagung berdasarkan Permendag sebesar Rp 4.500 per kg, sementara untuk harga jagung saat ini di kisaran Rp 5.000-6.100 per kg (17/9). Kondsi harga yang tidak sesuai tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dinilai menjadi salah satu sebab dari penurunan harga jual telur. Pembatasan jam operasional rumah makan, toko roti, dan semacamnya mengakibatkan penyerapan telur menurun serta konsumsi telur di masyarakat juga masih rendah. Penambahan jumlah peternak layer yang baru merintis usahanya, berdampak pada penambahan ketersediaan telur di tingkat peternak. Maka dari itu, ketersediaan telur cukup banyak sedangkan permintaannya terbatas.

Pemerintah seyogyanya bertindak cepat dalam merespon penanganan anjloknya harga telur mengingat yang paling berdampak ialah di kalangan peternak, khususnya peternak rakyat. Pengadaan bantuan sembako mungkin perlu dilakukan kembali, karena serapan telurnya cukup banyak. Serapan telur peternak ke pemerintah juga perlu meninjau kembali acuan harga yang telah ditetapkan di Permendag No. 7/2020. Supaya, telur yang dibeli pemerintah untuk pengadaan bantuan juga berrmanfaat bagi peternak karena harganya masih berada di ambang harga acuan penjualan.

Kesejahteraan peternak layer memang tidak bisa diprediksi. Pada saat awal masa pandemi Covid-19, harga telur masih tergolong stabil dan usaha peternakan yang masih bertahan yaitu di sektor ayam petelur. Kondisi tersebut pertanda angina segar, sehingga banyak peternak layer baru bermunculan. Lambat laun kondisinya cenderung fluktuatif. Dampak yang paling terasa bagi peternak pada saat bulan-bulan ini. Di Blitar, peternak layer “curhat” melalui posternya yang ditujukan kepada Presiden, tetapi justru malah diamankan aparat. Ibarat kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga.

Selain pemasaran, keterampilan yang perlu dimiliki seorang peternak layer yaitu dalam manajemen pemeliharaan. Banyak aspek yang mempengaruhi tingkat produksi ternak seperti pakan, kesehatan, perkandangan, bibit, dan sebagainya. Dengan pola manajemen yang baik, maka produksi yang dihasilkan pun akan berjalan dengan baik.

Pakan menjadi salah satu komponen utama dalam manajemen pemeliharaan ayam petelur. Biaya untuk pembelian pakan memiliki presentase yang paling tinggi dalam biaya operasional usaha. Maka dari itu, Harga Pokok Penjualan (HPP) salah satunya juga dipengaruhi oleh harga pakan. Jika harga pakan tinggi, otomatis HPP seharusnya naik. Kondisi saat ini malah justru sebaliknya, yang membuat peternak kelimpungan.

Manajemen kesehatan perlu diterapkan dengan baik supaya ternak yang dipelihara sehat dan produktif. Ayam petelur yang umumnya menggunakan kandang baterai, dimana ayam tersebut menghabiskan sebagian besar hiidupnya di dalam kandang dengan ruang yang terbatas tentunya memiliki tingkat stress yang cukup tinggi. Kondisi kebersihan kandang juga harus dijaga supaya ayam tetap merasa nyaman dan meminimalisir kontaminasi penyakit.

Kandang baterai beberapa tahun ke belakang sempat menjadi polemik dan kontroversial. Animal Friends Jogja (AFJ) sempat mengecam pola pemeliharaan ayam petelur dengan sistem kandang baterai. Hal tersebut dikarenakan ayam yang dikandangkan dengan ruang yang sempit akan sulit bergerak dan melakukan kebiasaan alaminya. Selain itu, kondisi kesehatan dan tingkat stress pada ayam dianggap dapat menurun apabila ayam dilepaskan dari kandang.Beberapa perusahaan internasional seperti Nestle, Unilever, Burger King, dan sebagainya pun turut serta dalam kampanye pelarangan penggunaan kandang baterai.

Tetapi di sisi lain, penggunaan kandang baterai cukup efisien dalam skala usaha peternakan. Karena tidak membutuhkan lahan yang luas dan bisa menampung populasi yang banyak dengan memaksimalkan lahan yang tersedia. Selain itu, penanggulangan penyakit lebih mudah karena ayam-ayam yang dikandangkan jauh lebih terkontrol dan juga proses pemanenan telur menjadi lebih mudah.

Manajemen perkandangan pada akhrnya dikembalikan lagi kepada kebutuhan masing-masing peternak. Asalkan menerapkan manajemen yang baik, kondisi ternak akan menjadi sehat dan produktif. Telur yang dihasilkan pun memiliki manfaat dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi masyarakat.

Menjadi peternak layer bukan merupakan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak sekali keadaan-keadaan yang tidak terduga menunggu di depan mata. Peternak perlu melakukan adaptasi dengan setiap kejadian yang diterimanya. Sinergitaspun perlu dilakukan dari berbagai pihak, baik di kalangan pemerintah, peternak, pedagang, sampai ke konsumen akhir. Di tengah ketidakpastian soal kondisi harga telur saat ini, harapannya kembali stabil supaya peternak dapat bernafas lega barang sejenak serta mengapresiasi hasl kerja kerasnya.

Penulis : Ulil/Hus

Editor : Abhipraya/Hus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *